Senin, 20 Juli 2015

HINDU RUMIT, DAN MENYOGOK TUHAN ?

Kris : Pagi Bro Sindu…Sibuk sekali kamu menyiapkan hari Raya Galungan . Tapi asyik juga aku lihat lagi bakar Babi…… Kalau di agamaku sangat simple, paling Cuma nyanyi-nyanyi aja.
Slim : Ya Ndu,,,kamu sibuk sekali kelihatannya. Di agamaku juga simple. Kalau hari raya, cukup sembahyang aja di tempat suci. Gak perlu pakai sarana ribet-ribet. Gak perlu nyiapin buah-buahan , gak perlu sibuk cari janur untuk buat upakara, gak perlu repot-repot cari bunga dan hal2 yang membuat kita menjadi “pusing pala berbie”.
Sindu : Yah memang seperti inilah di agamaku. Ada beberapa ritual yang wajib aku jalankan.
Kris : Untuk apa beragama ribet bro ? bukankah agama bertujuan untuk mempermudah hidup? kalau kamu dipersulit, tinggalin aja yang seperti itu. Itu Kuno.
Slim : Ya betul. Apakah Tuhan butuh makanan itu ? yang kamu haturkan itu apa nantinya dimakan sama Tuhanmu ? Apakah kamu sedang menyogok Tuhanmu agar mendapatkan sesuatu ? Apa emang ada perintah dari Tuhanmu untuk menyiapkan segalanya ?
Sindu : Bagiku menyiapkan ini untuk hari besar bukanlah hal yang ribet dan rumit. Tuhan menciptakan kehidupan ini dengan dasar yadnya atau penuh pengorbanan dan sangat rumit untuk dipelajari. Jadi bisa menghaturkan yang sedikit rumit adalah kebanggaanku sebagai manusia yang bisa berkreasi maksimal untuk Beliau.
Kris : haruskah kamu mengadakan persembahan itu ?
Sindu : Gini bro…tidak ada kata harus dalam agamaku. Yang terpenting adalah kesadaran. Mari kita ibaratkan dulu Tuhan itu sebagai orang Tua dan kita sebagai anaknya. ketika kita masih kecil, kita menganggap orang tua kita sebagai tempat meminta dan memohon segala kebutuhan. Gak dikasi ngambek dan nangis. Sepertinya orang tua harus menuruti segala kemauan kita. Tapi setelah beranjak dewasa, kita sebagai anak akan mulai berfikir bagaimana caranya agar bisa memberikan sesuatu kepada Orang tua kita. Meskipun barangkali orang tua kita tidak membutuhkan pemberian dari kita. Tapi bukan nilai materi pemberiaan itu yang akan dilihat oleh orang tua kita, melainkan perhatian dan ketulusan sang anak.
Slim : Bukankah semua agama bersepakat bahwa Tuhan itu maha pemurah ? dan hanya kepadanya tempat kita meminta ?
Sindu : Betul Slim . Orang yang beragamanya belum dewasa, menganggap Tuhan adalah bapak penyedia segala kebutuhan manusia. Karena itu ia memandang Tuhan sebagai “order supplier” dan tidak lebih dari itu. Berbeda dengan orang yang beragamanya dewasa, menganggap Tuhan tidak sekedar penyedia layanan dan jasa. Ia mulai berfikir untuk memberikan sesuatu sebagai symbol pertukaran kasih antara dirinya dengan Tuhan. Ia tahu betul bahwa Tuhan tidak membutuhkan semua pemberiannya itu, tapi ketulusan dan bhaktilah yang dilihat oleh Tuhan.
Kris : Apakah jalan untuk Bhakti pada Tuhan hanya melalui persembahan-persembahan itu saja ?
Sindu : Tuhan maha tak terbatas. Begitupun cara berbakti kita padaNya tak terbatas juga. HAnya saja manusia adalah mahluk yang terbatas. Menurut ilmu psikologi dari Barat, manusia dikelompokan dalam 4 karakter saja antara lain : Koleris, Sanguinis, Melankolis dan Plegmatis. Begitu juga Hindu mengelompokan menjadi 4 bagian sesuai karakter manusia itu sendiri. Ada, Karma Yoga : Bakti dengan tindakan kerja keras, mengarahkan, dan tenaga. Bhakti Yoga ; dengan ritual-ritual yang meriah, gambelan dan nyanyian. Jnana Yoga ; adalah bakti dengan mempelajari kitab-kitab dan mengupas makna yang terkandung di dalamnya. Raja Yoga adalah bhakti dengan kesederhanaan,apa adanya bahkan tanpa sarana sesuai dengan karakter sang Plegmatis.
Slim : dari penjelasan si Sindu agama kita kok jadinya mirip seperti anak kecil yang selalu meminta aja …he he he he
Sindu : he he he wajar dong, karena disana terlalu banyak obral janji. Jadinya si anak manja,,,,,bisanya minta aja tanpa melakukan “pertukaran kasih” .
Kris : wah kalau gitu agamaku tergolong dalam Bhakti Yoga , karena banyak nyanyinya…..
Slim : mirip di Taman Kanak Kanak ya,,,,,makin kenceng nyanyinya makin bagusssss
Sindu : ssstttttt jangan saling menghina. Nenek bilang itu berbahaya.
Kris : Ndu,,,gimana cara mengukur atau melihat seseorang Hindu yang bisa disebut berbakti pada Tuhan?????
Sindu : simple bro. Hanya dengan mamahami tanda ini ( +) tanda plus . Cukup gak ruwet2.
Kris : Lho itu kan lambang agama gue ? ngapain loe bawa-bawa segala ke dalam pengertian agamamu ?
Sindu : Lho itu kan lambang di Hindu sejak jaman dahulu kala ? belum tau ya ?? ada dua garis vertical dan Horizontal. Disebut dengan tapak dara. Seperti tapak kaki burung dara. Dunia udah mengakui keyakinanku lebih dulu lahir dari yang lain. Jadi gak mungkin yang duluan niru yang belakangan. he he he
Kris : Coba jelaskan sekarang tanda plus itu yang berkaitan dengan bhakti ?
Sindu : Ada 5 point atau titik yang harus di capai agar bisa disebut Bhakti pada Tuhan dalam hal ini disebut dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Brahman. Intinya adalah pengorbanan secara tulus iklas. Garis ke atas adalah Dewa Yadnya . Bhakti dan pengorbanan pada para Dewa atau sinar suci Tuhan. Kalau Cuma rajin sembahyang dan berupakara di pura, itu baru satu point bro. Jangan kira diri kita sudah paling tau akan Hyang Widhi. Hyang Widhi itu luas cakupannya.
Slim : berarti orang yang rajin sembahyang dan berupacara belum tentu dikatakan dekat atau memahami Tuhan ? masih ada 4 point sebagai tolak ukurnya ya ???
Sindu : ya itu baru satu. ke dua adalah Garis Vertikal kesamping kanan adalah Rsi Yadnya. Yaitu bakti dan pengorbanan pada para guru suci. Karena beliaulah kita bisa memahami nilai-nilai luhur dalam kehidupan. jadi biasakan memberi sesuatu kepada para pemuka agama kita. Garis Vertikal ke kiri adalah Pitra Yadnya. Yaitu Bhakti kita pada para leluhur. Tuhan menciptakan kita melalui para leluhur ini. Bukan sim salabim tiba-tiba kita nongol. Garis ke bawah, Yaitu Bhuta Yadnya. Pengorbanan dan Bhakti pada alam, tumbuhan , hewan dan segala mahluk hidup yang ada di bumi ini. Yang terakhir adalah titik yang ditengah yaitu Manusia Yadnya adalah Bhakti dan melakukan pengorbanan pada sesama manusia tanpa memandang suku, agama dan Ras. Disamping itu adalah bhakti terhadap diri sendiri baik jiwa maupun raga. Kalau baik hanya pada umat seiman, itu belum sempurna kawan.Jika bisa melakukan ke-5 point di atas secara seimbang, barulah dikatakan orang ini memiliki spiritual yang bagus. Ke-5 point itu dilakukan secara sekala dan niskala. Secara niskala dengan serangkaian upacara/ ritual dan secara sekala adalah dengan action/ tindakan. Dan orang spt inilah yang paling layak disebut dengan penekun spiritual dan Bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Slim : Luar biasaaaaa…..he he he he aku Cuma baru rajin sembahyang bro,,,lihat jidat gue sampai hitam kepentok lantai,,,,tapi belum bisa merawat alam,,xi,,xi,,,xi,,,berarti aku baru dapat 1 point yo,,,,mih butuh lagi 4 point lagi.
Kris : Aku juga baru hanya rajin sembahyang dan bantu sesama manusia, yang lain masih belum. Baru 2 point.
Sindu : lewat lambang plus atau tapak dara inilah kita bisa mengukur seberapa luas kita sudah memahami beliau yang tak terbatas ini. Ngomong-ngomong babinya udah matang lho…aku mau menghaturkan dulu habis itu kita makan.
Kris : ayo ayo,,,aku udah laper ne
Slim : Harammmm….
Kris : kalau seandainya kamu Slim lagi tersesat di hutan atau gurun, dan hanya ada Babi makanan satu-satunya untuk bertahan hidup gimana bro ??
Slim : ya Halal….
Kris : xi,,,,xi,,,,xi,,,xi,,,,xi,,,,,,,, anggap aja kamu lagi tersesat hari ini,,,,,,,
Sindu : he he he
Kris , Slim ; selamat Galungan ya Bro Sindu…….
Sindu : Trima kasih sobatku berdua.
Semoga bermanfaat

Sumber : 

DIAGAMA MANAKAH ADA AJARAN KASTA ?

Slim : Bro….kamu udah tau kan, kalau aku ini adalah pendatang baru di pulau Dewata . Jadi aku mau minta saran dari kamu gimana aku harus bersikap pada masyarakat di pulau ini. Maksudnya aku dengar di pulau ini ada istilah kasta. Biar aku tidak sembarang bicara.
Kris : Ya Bro Sindu,,,,,kitorang juga dari Timor sana,,,,,biar kita juga tau bagaimana kita jaga sikap.
Sindu : he he he dimana tanah dipijak disana langit dijunjung….itu aja rumusnya.
Kris : Tanah yang dipijak sih aku ngerti bro,,,,yang aku gak ngerti gimana langit itu dijunjung ?
Slim : Ya Bro…di Bali kan ada banyak kasta, ceritakan padaku dari kasta terendah sampai kasta tertinggi.
Sindu : kasta yang terendah adalah orang-orang yang merusak dan tidak menjaga Pulau Bali ini dengan Baik. Sedangkan kasta tertinggi adalah orang yang bener2 bertindak untuk menjaga pulau ini baik dari segi budaya, agama dan alamnya. Kalau kalian ikut menjaga Bali, berarti kalian masuk kasta tertinggi. Ha ha ha
Kris : he he he ,,,,bukan itu yang kita maksud, di Bali ini kan ada kasta Ida Bagus, ada Kasta Dewa, ada Kasta Gusti ada kasta Jabo dan apalagi yah? pokoknya gitu deh. Kemarin ada karyawan Tokoku katanya ia berkasta, karena ia malas, aku bentak sedikit,,,,eh malah dia marah,,,,katanya tidak boleh berkata keras pada orang yang berkasta. ….akhirnya aku bicara pelan sekali,,,,,,aku bilang “ hari ini kamu aku pecat ya”…..
Slim : Katanya agama Hindu itu universal dan untuk semua orang, lalu kenapa agama Hindu menciptakan perbedaan atau sekat-sekat itu ? Bahkan aku dengar, hanya kasta Brahmana yang boleh tau Kitab Suci.
Kris : aku orang Timor, seandainya aku mau masuk Hindu, Aku ditempatkan di kasta apa bro ? Kalau aku dikasi masuk di kasta tertinggi, mungkin aku pertimbangkan ,,,he he he he,,,,, Ngomong-ngomong kastamu apa Sindu ?
Sindu : Aku tidak punya kasta Bro….
Slim : berarti kamu orang jabo atau Sudra ya kawan ???
Sindu : he he he,,,,dalam keyakinanku tidak mengenal kasta Bro,,,,kasta itu berasal dari Bahasa Portugal yaitu Caste yang artinya sekat,tembok atau pemisah berdasarkan kelahiran.Sedangkan kitab suciku banyak menggunakan bahasa Sansekerta. Kata Kasta dalam bahasa Sansekerta berarti Kayu. Yang ada dalam Weda adalah Varna/ Warna/ colour. Ada 4 warna sehingga disebut dengan Catur Varna. Warna yang dimaksud adalah profesi. Jadi ada 4 porfesi menurut Weda. Warna Brahmana adalah orang-orang yang memfokuskan hidupnya untuk masalah spiritual. Warna Ksatriya adalah orang yang memfokuskan hidupnya dibidang pemerintahan. Warna Wesya adalah orang yang memfokuskan hidupnya pada dunia perdagangan. Dan Warna Sudra adalah orang-orang yang memfokuskan dirinya untuk melayani dari ketiga warna di atas itu.
Kris : Jadi kasian sekali karyawan yang aku pecat itu, saat ini ia tidak punya warna lagi, alias pengangguran. ha ha ha…
Slim : Tujuan diciptakan Catur Warna dalam Weda itu apa bro Sindu? Apakah bener Weda hanya untuk golongan tertentu saja. Misalnya hanya orang Brahmana saja ?
Sindu : Profesionalitas Bro,,,,agar setiap orang bisa bertanggung jawab dan sungguh2 mengerjakan profesinya. Tidak benar Weda hanya untuk golongan tertentu. Ini Ayatnya : Yajurveda XXVI.2 menyatakan bahwa hendaknya ajaran suci Veda ini disampaikan kepada seluruh umat manusia, kepada Brahmana, Ksatria, Vaisya, Sudra bahkan kepada orang asing sekalipun.
Kris : kalau gitu warnaku berubah setiap sekian jam bro. Pagi aku cuci mobil sendiri karena tak ada pembantu. Berarti aku Sudra. Siangnya aku pergi ke toko. Berarti siangnya aku jadi Wesya. Pulang dari Toko aku menjalankan tugasku sebagai kepala lingkungan di wilayahku. aku jadi Ksatriya. Kalau malam aku baca kitab suci. Jadi malamnya aku sebagai Brahmana,,,,xi,,,xi,,xi,,xi,,xi,,,,
Slim : wakakakakakka,,,pantesan juga kulitmu kaya bunglon. belang-belang gitu bro….
Slim : Aku pernah baca di Internet, katanya kalau ada seorang Sudra yang baca kitab suci, nanti telinganya akan di cor dengan timah panas. Bener gak itu bro ?
Sindu : Ha ha ha…aku tidak tau entah apa maksud dari orang-orang memelintir ayat atau sloka-sloka dalam Veda. Sloka itu aslinya berbunyi spt ini : “Wedam upa srnwatas trapu jatubhyam srotra prati purana udaharane jihwac chedo dharane sarira bheda asana sayana wak
pathisu sama prepsur dandyah satam”
(Gotama Smerti; 12)
arti:
“Bagi warna sudra (para pekerja) yang ingin mempelajari Weda,
supaya berhasil dengan baik yakni dengan mendekatkan pendengarannya mulai dari awal pengertian-pengertian,
bahasa dan ucapannya dengan menutup pengaruh dari luar,
badan duduk dengan tenang (asana) ditempat belajar dan ucapan diulang-ulang terus menerus sampai akhir.”
Ngomong2 Ada sebuah kasta yang bener-bener menjadi cita-citaku dari dulu…
Kris : Kok kasta bisa jadi cita-cita ??? Kasta apa sih itu Bro Sindu???
Sindu : Kasta “Anak Sane Meduwe Jinah Akeh”. Artinya kasta seseorang yang punya uang banyak….ha ha ha ha .
Slim : kalau itu sih cita-citaku juga bro,,,,, Kalau gitu jelaskan asal-usul istilah kasta itu di Bali!
Sindu : Aku akan berusaha jelaskan asal-usul kata kasta tersebut. Topik yang kita bicarakan adalah topic yang sangat rentan. Tapi wajib untuk diketahui. Jadi aku akan berusaha hati-hati menjelaskan hal ini. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau “Warna”.Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada, maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13. Para Orang-orang Majapahit membawa serta kaum elit untuk memimpin di Bali Dwipa. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa, yaitu Brahmana, Kesatria, dan Wesya. Semua penduduk Bali-asli yang dijajah, dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra. Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis, sehingga kelanggengan pemerintahan Majapahit dapat berlanjut terus. Politik ini adalah bagaimana memanfaatkan ketidak tauan masyarakat akan ajaran agamanya sendiri.
Slim : kenapa juga di India hampir sama dengan di Bali ?
Sindu : Di India juga sama, catur Warna yang ada dalam Weda diplesetkan oleh Bangsa Inggris yang menjajah India di kala itu abad ke XVII (1605) . Orang-orang yang dekat dengan Pemerintahan Inggris dimasukan ke dalam Tri Wangsa dan orang umum bahkan yang tidak patuh terhadap pemerintahan Inggris disebut dengan Wangsa Sudra. Semuanya itu bertujuan politik untuk memecah belah kekuatan bangsa India di kala itu. Munculah politik bahwa hanya kaum Brahmana dan keturunannya saja yang dapat mempelajari Weda. Tujuannya adalah agar orang-orang yang dianggap sudra tidak memahami ajaran yang sebenarnya.
Kris : apakah itu wangsa ?
Sindu : Wangsa artinya keturunan. Karena dulunya belum mengenal istilah kasta, Jadi isitlah inilah yang di gunakan untuk mengetahui asal usul dari keturunan. wangsa=> atau soroh sama sperti clan atau marga seperti pada suku batak yaitu di ambil dari garis keturunan sedarah,yg bersifat difrensiasi sosial,yg tidak ada klas2 secara vertikal,tidak ada klas tinggi dan klas rendah,
Slim : Adanya nama Anak Agung, I Gusti ,Ida Bagus, I Dewa , I Gede Pasek, apakah berasal dari politik Majapahit itu ?
Sindu : saya kira kemungkinan besarnya adalah Ya. Keturunan dari Warna Brahmana pada umumnya bergelar Ida Bagus, Keturunan dari Ksatriya umumnya bergelar I Gusti atau I Dewa. Keturunan dari Wesya umamnya bergelar Pande, dan keturunan dari Warna Sudra tanpa gelar. Raja-raja Bali jaman dahulu bisa menaikkan (Wisuda) dan menurunkan (Petita)gelar seseorang atau keluarganya, berdasarkan jasa atau kesalahan yang dilakukan oleh yang bersangkutan kepada raja. Perobahan wangsa juga terjadi karena satu keluarga "nyinebang wangsa" (menyembunyikan marganya).
Kris : kalau sudah tau ajaran yang sebenarnya adalah Catur Warna, yaitu pembagian berdasarkan profesi ,lalu kenapa orang Bali khususnya orang Hindu masih mempertahankan nama-nama gelar itu ?
Sindu : Nama-nama gelar itu yang diberikan oleh leluhur orang bali, bertujuan untuk mengetahui garis keturunan dan tidak melupakan kawitan / asal-usul leluhur dan nama leluhur yang sudah berjasa pada keturunannya. Dengan berjalannya waktu, Umat Hindu khususnya di Bali akan semakin mengerti akan Catur Warna seiring mulainya era perdagangan industry yang menuntut profesionalisme. Catur Warna tidak membahas sekat tentang tinggi rendahnya derajat manusia. Catur Warna juga menegaskan bahwa antara masing-masing Warna / Profesi saling berkaitan. Aku pernah lihat tulisan di mobil Truk “ Gak ada buruh gak ada Boss”.
Slim : kenapa di Hindu kita perlu menyembah leluhur ?
Sindu : karena Tuhan menciptakan kita tidak dengan cara “ sim salabim abra kadabra jadilah manusia”. Tapi beliau menciptakan kita melalui jalan para leluhur itu. Pemujaan terhadap leluhur sujatinya untuk memahami siapa jati diri kita. Orang yang tidak memuja leluhur sangat gampang dipengaruhi oleh budaya luar sehingga sangat gampang ia tercabut dari akar budayanya.
Kris : apakah banyak masalah yang ditimbulkan akibat kurangnya pemahaman catur warna di masyakat kita ini ?
Sindu : Sudah tentu ya. Pertama adalah memudarnya ajaran Hindu yang bersifat universal. Persatuan orang Hindu pasti akan lemah. Juga masalah perkawinan sering menjadi polemic disebabkan kedua belah pihak merasa berbeda kasta ada yang merasa lebih tinggi ada yang dianggap lebih rendah. Juga sering terjadi masalah ketika ada kematian. Sehingga sulit akan tercapai pemahaman ajaran Tatwam Asi “Aku adalah kamu dan kamu adalah Aku”.
Kris : kalau aku masuk Hindu, berarti aku Warna Wesya. Aku dapat gelar gak ? Kawitan Leluhurku mana ya ???
Sindu : Karena kamu berdagang, ya Wesya. Gelarmu adalah Boss he he he. Kawitan atau leluhurmu tanyakan pada orang tuamu,,,,beliau pasti punya silsilah sehingga kamu punya nama marga.
Slim : yang paling keren dalam agamaku adalah gak ada kasta bro,,,,,jadi gak perlu pusing-pusing mikirin aku lebih tinggi kamu lebih rendah,,,,,,,ayo yang mau ikut silahkan, mumpung lagi promo di bulan ini.
Sindu : Bener gak ada kasta bro ??? perasaan ada bro ….Istilah kafir adalah untuk orang yang berada di luar agamamu. Kafir konotasinya sangat negative dan sangat rendah. Tuhan dalam agamamu seolah-olah sangat membenci kafir ini, padahal beliau sendiri katanya yang ciptakan seluruh manusia di bumi ini. Hanya orang-orang dalam agamamu yg sepertinya di muliakan dan orang kafir sepertinya layak kena musibah,,,,, bukankah itu berarti sekat/ kasta dalam agamamu ???
Slim : he he he kok kamu tau ???
Sindu : Jika saja kafir berarti adalah kebodohan atau kemiskinan, jangankan aku di Hindu, seluruh agama pasti setuju memeranginya. Aku akan angkat pedang ilmu pengetahuan untuk membasmi kebodohan dan kemiskinan itu.
Slim : he he he ,,,tapi bagi ajaranku, kalian berdua kafirnya, dan nanti jadi penghuni neraka.
Sindu : gak apa-apa gak dapat surga. KAfir adalah kaum yang berfikir. Tidak menelan mentah2 isi dari kitab suci. Kan aku dah bilang kemarin. Tujuanku moksa….bukan surga…. Bagiku di Hindu, agama-agama yang lain bukanlah saingan bukan juga menjadi targetku untuk diajak masuk Hindu. Agamaku bukan seperti MLM yang harus cari pengikut dan dapat point kalau sudah mendapatkannya. Juga tidak ada janji-janji akan surga. Semuanya adalah kesadaran. Baik yang ditanam, baikpula yang didapat.
Kris : Bagiku juga kalian berdua adalah domba2 tersesat , gak bisa masuk Surganya Bapa. ,,,,,he he he ada sebuah ayat dalam kitabku menyatakan “Tidak ada keselamatan di luar agamaku”.
Sindu : Jika ada sebuah agama yang berisi ajaran mengekslusifkan diri dan menganggap rendah pemeluk agama lain, sebenarnya agama tersebut sedang mengukuhkan dirinya memiliki ajaran “kasta”. Ayo kita jalan2 mumpung masih suasana hari raya,,,,,
Semoga Bermanfaat
Sumber :

TAKDIR VS HUKUM SEBAB AKIBAT ? HIDUP SEKALI VS BERKALI-KALI?

Kris :, Slim ; PAgi Sindu ….
Sindu ; eh,,pagi juga. Pagi2 dah dapat tamu special lagi.
Kris : biasa kita masih penasaran dengan perbincangan kemarin. Si Slim katanya gak bisa tidur malah,,,,dulu dia mikir tujuan terakhir adalah surga surga surga,,,,eh sekarang mulai memikirkan moksa…udah mulai kena racun si Sindu dia,,,,
Sindu : memikirkan moksa boleh,,,asal jangan maksa,,,,he he he he,,,,,perlu perenungan yang mendalam kawan.
Slim : kok banyak ada kertas kecil-kecil bro ? OOOhh semuanya berisi tulisan ya ??? hmmmmm,,,,,ada Tulisan kemarahan, ketamakan, iri hati, malas, kebimbangan, kesedihan, kecemasan, ketakutan, dendam, dll ….untuk apa kamu menulis semua ini ?
Sindu : He he he….Kemarin kan hari pengejukan, pengejukan bisa di artikan mengikat, Jadi yang aku ikat adalah hal-hal buruk yang ada dalam diriku. Tadi malam aku letakan semua tulisan ini di bawah pantatku. biar mirip seperti lukisan Dewa Siwa yang menduduki harimau. Artinya beliau sudah mampu menundukan sang Ego.
Slim : Trus di hari penampahan ini, kamu apakan tulisannya semua ?
Sindu : Aku bikin api suci dulu, dan aku bakar satu persatu…,
Slim : Tujuannya?
Sindu : Ya harapanku biar bisa menang melawan hal-hal negative dalam diriku sendiri. Karena hari Galungan adalah hari kemenangan sang diri melawan ketidak benaran yang ada dalam sang diri juga. Ini ritualnya bro….kalau prakteknya setiap hari, harus ditumpas dengan senjata yang bernama ilmu pengetahuan.
Kris : Bukannya makna pengejukan dan penampahan artinya tangkap babi dan menyembelih babi bro ?
Sindu : he he he he …makna utamanya adalah seperti yang aku bilang itu, ritualnya adalah potong Babi. Kalau bisa memtong lehernya babi kecil sampai putus. Karena babi adalah symbol dari kemalasan, ketamakan, nafsu dll. Bukan Babi hutan lho ya.
Slim : ha ha ha ha ha ,,,,,apa gue bilang babi itu haram bro,,,,,itu memang tidak layak untuk dimakan…. Keren kan aturan dalam agama gue.
Kris : tapi itukan daging terenak di dunia ? masak gak boleh dimakan ? kalau itu memang jelek, harusnya setiap orang makan daging itu keracunan atau berumur pendek. Faktanya orang-orang baik –baik saja.
Sindu : Yah,,,apapun yang berlebih pasti buruk jadinya. Begitu juga kalau santap daging kambing. Kolesterol dijamin naik bro. Apapun yang diciptakan oleh Tuhan pasti ada tujuannya. Dalam keyakinanku Tuhan tidak pernah memandang mahluknya sendiri adalah sebuah kegagalan produk. Semua yang tercipta di dunia ini pasti ada guna dan manfaat. Apa manfaat dari Babi, tanya aja Mbah Google,,,,disana banyak dijelaskan. Ketimbang kita sibuk mencari kejelekan ciptaan Tuhan, mending kita cari manfaatnya.
Kris : jangan- jangan saking enaknya tuh daging, orang-orang di tanah kering sampai-sampai melakukan pertikaian gara-gara memperebutkan daging super enak tersebut ??? ….. agar tak terjadi pertikaian itu, sang pemimpin yang bijaksana menjelaskan kalau daging itu haram,,,,,,ha ha ha ha ,,,masuk akal gak bro ???
Slim : walah,,,,keluar lagi nih ilmu cocok loginya,,,,
Sindu : he he he he,,,,kalau gitu kita gak usah bahas tentang Babi.
Kris : ngomong-ngomong, kenapa babi ini yang terpilih di bunuh ya? maksudku, babi yang kita santap kemarin itu lho, kenapa gak babi yang itu atau yang itu? kan banyak kau punya babi Ndu ?
Slim: lho kok ngomongin babi lagi. Najis tau,,,,mungkin maksud si Kris begini, kenapa kita lahir bisa berbeda-beda jalan hidupnya ? ada yang ganteng/cantik ada yang buruk dan cacat. Ada yang hidupnya berkelimpahan harta, ada juga yang miskin menderita seumur hidupnya. Ada yang selamat sampai tua, ada yang mati muda, Apa yang menyebabkan itu ?
Sindu : menurut kalian sendiri apa penyebabnya?
Kris : menurut aku sih takdir
Slim : Menurutku juga takdir.
Sindu : Yang menentukan takdir ?
Slim : Tuhan bro,,,,Tuhan dah ngatur segalanya ketika manusia atau mahluk itu belum tercipta di dunia ini. Jadi jalan hidup kita udah di tulis oleh Tuhan sebelumnya.
Sindu : Apakah tulisan Tuhan tentang jalan hidup itu menyangkut juga kegiatan-kegiatan kecil kita seperti potong kuku, menyapu, membersihkan tai hidung, bab, kencing , menulis dls ? Hp ku kemarin sempat mati, ternyata aku lupa colokin, apakah itu juga Tuhan yang mengatur ? Termasuk kemarin, karena saking enaknya daging babi, si Kris banyak makan dan dia mual-mual. Apakah itu juga diatur oleh Tuhan.
Kris : Ssssstttt,,,jangan bilang-bilang bro kalau aku itu sampai mual-mual. Nah lho,,,,,mulai bingung nih kita,,,,,biasanya sih orang bilang kalau jodoh di tangan Tuhan, tapi kalau dah cerai, itu kehendak pasangan,,,,,xi,,xi,,,xi,,xi,,,,,Kalau dapat rejeki itu dari Tuhan, kalau ketahuan nyolong sandal di tempat suci, itu bujukan setan,,,,,,,xi,,xi,,xi,,,,ternyata ada pihak lain juga yang ikut mengatur kehidupan kita yaitu si setan,,,,,,yang jadi masalah si setan bisa masuk ke tempat suci,,,,xi,,,xi,,xi,,xi,,,,
Slim : ah kau,,,,selalu nyindir aku,,,,,karena sandal yang hilang paling banyak di tempat suciku,,,,sampai dibuatkan iklan lagi,,,,,,,,wakakakakkakakkakak.
Sindu : kalau semua sudah tertulis dari sononya, ngapain kalian kerja “pergi pagi pulang pagi “ “hanya untuk mencari rejeki “ ? harusnya santai aja, kan udah diatur.
Slim : Beh,,,si Sindu penggemar Armada Band. Ngomongnya sambil nyanyi,,,,nah itulah bro,,,katanya Tuhan gak mau mengubah nasib kita kalau kita sendiri tidak mau mengubah nasib diri kita sendiri.
Sindu : Trus tulisan yang katanya udah di tulis Tuhan dari sononya itu untuk apa ???
Kris : iya ya,,,,,untuk apa coba ? mikirrrr.
Slim : kamu juga mikir dong,,,,
Kris : awas botak, biarin si Sindu aja yang botak,,,wakakakkakakak,,,,
Sindu : kalian hidup di Negara ini diatur oleh apa ? bukankah Negara ini mengatur kehidupan masyarakatnya dengan hukum ? Jika kalian berbuat baik dan berjasa pada Negara, itupun kalau Negara tau, kalian dapat tanda jasa atau penghargaan. Sebaliknya jika kalian berbuat jahat dan merugikan orang lain, itupun kalau Negara tau, kamu akan di hukum.
Slim : kalau Negara tak tau aku berbuat jahat???
Sindu : ya kamu bisa bebas …..
Slim : horeeeeee……
Sindu : horeeee apanya???? kamu bisa terbebas dari hukum Negara, tapi kamu tidak bisa bebas dari hukum sebab akibat atau dalam agamaku disebut dengan Karma Phala. Apapun yang kamu lakukan hukum ini mencatat secara detail, karena tindakan akan menghasilkan hasil. Orang sains menyebut hukum ini sebagai hukum aksi-reaksi. Kalau Negara mengatur dengan hukum, begitu juga Tuhan dalam keyakinanku mengatur kehidupan ini dengan hukum. Hukum Karma Phala adalah hukum teradil di alam semesta. Hukum ini tidak memandang jabatan seseorang, agama, suku , ras dan setiap mahluk hidup tak luput dari hukum ini.
Kris : apakah orang yang kentut juga di atur hukum ini ?
Sindu : kalau kamu tentut sembarangan, jelas orang tidak akan suka pada kamu.
Slim : apa hubungannya hukum ini dengan perbedaan kelahiran dan jalan hidup tiap manusia ?
Sindu : aku akan kasi 2 contoh kasus. Pertama ; Ada seorang ibu yang baik hati terlahir dari keluarga miskin. Ia menderita banyak hal dari kecil. Ketika ia dewasa, ia mendapatkan pasangan seorang prajurit Negara. Walaupun bersuamikan seorang prajurit, kehidupan nya belum juga lepas dari kemiskinan dan penderitaan. Kemudian ia dikaruniai 3 orang anak. Karena tugas sang suami di kota Aceh, ibu ini dan beserta anak-anaknya ikut berpindah tempat tinggal. Musibahpun datang…bencana Tsunami melanda kota tersebut. Dan Ibu ini kehilangan seluruh anggota keluarganya. Tinggalah ia sebatang kara dengan kondisi sakit-sakitan. Pertanyaannya , apakah Tuhan sekejam itu menciptakan jalan hidup atau takdir mahluknya ? Kenapa Tuhan memberikan jalan hidup yang begitu tragis pada ibu itu ?
Slim : Yah,,,karena Tuhan kan sedang menguji keimanan dan ketaqwaan si ibu itu. Dunia ini kan tempat ujian.
Sindu : Apakah seberat itu ujiannya ? kenapa manusia yang lain gak seberat itu ujiannya ? Jika Tuhan adalah maha tau, kenapa butuh nguji mahluknya dulu ? bukankah menurut keyakinanmu Tuhan sudah menuliskan jalan hidup sebelumnya ?
Kris : Bagi ibu itu sih boleh dibilang dapat ujian, tapi bagi suami ibu itu beserta anak2nya yang meninggal gimana ? apa bisa orang yang meninggal dibilang dapat cobaan ?
Sindu : Dalam keyakinanku di Hindu, tidak ada istilah mendapatkan cobaan. Siapa yang mencoba ? apakah Tuhan atau setan ? Kalau Tuhan yang mencoba, bukankah beliau adalah maha tau, kenapa musti mencoba lagi baru beliau tau ??? kalau setan diberikan mencoba, berarti Tuhan melakukan pembiaran. Pembiaran adalah kejahatan serius. Menurutku yang ada adalah hukum sebab akibat itu yang sedang berjalan. Siapa kita hari ini di tentukan oleh apa tindakan kita di kehidupan sebelumnya dan juga apa yang sudah kita lakukan hari ini. Sri Krisna yang berwujud manusia dan para nabi pun rasanya tidak lepas dari Hukum ini. Karena beliau-beliau ini dalam cerita meninggal dalam keadaan yang tidak wajar.
Slim : seperti aku hari ini, hidupku belum juga mapan dan umurku makin tua, tapi belum juga dapat jodoh,,,, hik. hik.,,,
Kris : he he he,,,,,kalau mendengar penjelasan si Sindu, bisa aja kamu Slim hidupmu dulu muda foya-foya, tua kaya raya dan beristri banyak, sampai-sampai tetanggamu gak dapat istri, karena kamu rebut calon istrinya orang,,,,,terima deh sekarang spt ini,,,,,wakakkakakkak
Slim : ngenyek,,,ngenyek,,,,,seneng,,,,seneng,,,lihat teman susah,,,,,,,Trus apa bukti aku pernah hidup sebelumnya Ndu?
Sindu : aku tidak menjawab itu hari ini, kita focus dulu tentang kenapa timbul perbedaan jalan hidup seseorang. contoh kasus ke 2 : Seseorang anak bernama Japlak terlahir di keluarga penjahat. Dari kecil ia mendapatkan pendidikan tentang berbuat kejahatan. Tak satupun ada orang yang mau menarik ia kejalan yang benar. Ketika ia beranjak dewasa, ia menjadi penjahat kelas kakap. Namun disayang, Si Japlak tewas terkena timah panasnya polisi ketika sedang transaksi narkoba. Pertanyaannya , kenapa Tuhan menempatkan kelahiran si Japlak pada orang tua penjahat ? lalu kenapa tidak ada yang menarik si Japlak untuk keluar dari dunia hitam tersebut ? Sejahat itukah Tuhan menempatkan mahluknya ? Jika hidup ini hanya sekali, berarti bisa dipastikan si Japlak akan masuk neraka abadi. Dimanakah letak Tuhan sebagai maha pengampun jika memang hidup hanya sekali dan si Japlak akhirnya terlahir sebagai penghuni neraka abadi ??????????????
Kris : Aku pusing pala berbie.,,,,pusing pala berbie,,,,,ooooo,,,,,pusing pala berbie ,,,pala berbie,,,ooooooo
Slim : habis si Japlak mengikuti bujuk rayu setan sih,,,,,,,
Sindu : apakah yang menempatkan kelahiran si Japlak di keluarga penjahat adalah setan ? Ada orang yang terlahir sebagai orang cacat. Kenapa ia terpilih jadi orang cacat, kenapa bukan kamu slim ????
Slim : Syukur bukan aku,,,,mungkin aku dulunya hidup lebih baik ketimbang orang yang cacat,,,,
Kris : nah lho,,,,,kamu udah mulai percaya kalau hidup ini berulang-ulang,,,,,,ha ha ha ha ,,,,,
Sindu : Yuk mandi dulu,,,,,besok kita lanjut lagi,,,,,yuk cuci kepala kita biar bisa mikir jernih,,,,,,sampai jumpa kawan aku mau lanjut ritual nih
Semoga Bermanfaat,,,,salam damai

Jumat, 12 Juni 2015

Surga, Neraka dan Moksa


Surga/sorga itu menyenangkan, konon didalamnya ada puluhan bidadari cantik yang melayani para penghuni pria, surga dihuni oleh satu agama, dan tidak bagi agama yang lainnya. Tidak ada ruang surga bagi agama lain kalaupun ada ruang itu bukanlah surga melainkan neraka. Neraka itu konon mengerikan, disini penghuni akan disiksa, dibakar dll. Itulah gambaran surga/sorga dan neraka yang mungkin semua umat manusia pernah mendengar ceritanya atau melihat tayangan televisi dalam bentuk sinetron, dll. Bagaimana surga dan neraka dalam Hindu?
 
Upanisad juga bicara tentang Sorga dan Neraka. Sorga berasal kata SVAR yang artinya cahaya dan GA (GO dalam bahasa Inggris ) berarti pergi, jadi Sorga (Swarga) berarti pergi ke tempat cahaya. Berikut ini ada salah satu teks mantra yang menjelaskan Sorga:
“Kepada seorang yang melintasi jembatan itu, malam menjadi seperti siang ; karena di dalam dunia-dunia jiwa ada suatu cahaya yang abadi”

Sorga dalam konsep Hindu bukanlah tempat untuk memuaskan keinginan-keinginan atau nafsu-nafsu tubuh atau tempat hiburan dimana manusia (laki-laki) dapat memuaskan nafsu badaninya. Sorga adalah dunia cahaya. Jiwa adalah cahaya. Tubuh yang menjadi sumber nafsu dan penderitaan tidak ada di Sorga.
Neraka digambarkan dengan cara yang sangat menahan diri. Pustaka Suci Hindu tidak mengajarkan kenikmatan dari penderitaan orang lain. Dari hampir 25.000 mantra Veda hanya ada tiga mantra yang menjelaskan tentang Neraka. Dari seluruh Upanisad hanya ada satu teks tentang neraka:
“Ada Dunia-dunia yang dihuni raksasa, wilayah kegelapan yang pekat. Siapapun dalam hidupnya menolak jiwa jatuh dalam kegelapan”

Bandingkan dengan kitab suci agama Semitik. Ada yang secara khusus dan rinci melukiskan ancaman neraka yang sadis dan mengerikan. Dan dalam kitab lain paling sedikit ada 1000 kali ancaman neraka disebutkan. Jadi dalam setiap enam ayat ada satu ancaman neraka, hukuman sangat berat atau siksa yang pedih. Manusia dijadikan bahan bakar bagi api neraka. Setiap badannya yang hangus terbakar, mereka akan diberikan badan baru lagi agar dapat merasakan siksa neraka yang mengerikan itu secara abadi. Yang dimasukan ke neraka adalah orang-orang yang berkeyakinan lain. Ayat-ayat semacam ini menimbulkan keyakinan yang berbahaya bagi dunia. Tindakan kekejaman dan kekerasan yang dilakukan terhadap agama lain hanyalah partisipasi saleh dalam kehendak Tuhan. Keyakinan seperti ini telah mengakibatkan banjir darah dan perang agama yang mengerikan sepanjang sejarah.

Dalam Pustaka suci Hindu, neraka hanya digambarkan sebagai tempat kegelapan, yang dihuni orang-orang yang tidak setia, yang berbuat asubha karma (berbuat jahat), dan para penyihir. Neraka seperti juga halnya sorga, bukan tujuan akhir, bukan tempat yang final dan tertutup. Dari keduanya terdapat pintu dan jalan dari mana jiwa dapat menuju ke tujuan lain, apakah lahir kembali(Reinkarnasi) untuk dapat melanjutkan serta menyempurnakan Evolusi Jiwa hingga sampai mencapai moksa atau dalam istilah Jawa “Manunggaling Kawula Gusti”.

Juga tidak ada ancaman hari kiamat. Alam semesta lahir dari kebahagiaan dan kembali ke dalam kebahagiaan. Penderitaan bukanlah retributif (bersifat menghukum), atau balas dendam, tapi bersifat rekonstruktif, untuk membangun karakter. Seperti tanah liat yang digiling, dibentuk dan dibakar untuk menjadi cangkir porselin yang indah. Moksa adalah Tujuan akhir dari perjalanan jiwa. Ia digambarkan sebagai persatuan Jiwatman dengan Brahman, Seperti sungai-sungai yang mengalir menuju Samudra luas, ia hilang nama dan bentuk , dan yang ada hanya samudra luas.

“Seperti sungai yang mengalir lenyap dalam samudra luas, membuang bentuk dan nama. Demikianlah halnya yang mengetahui dibebaskan dari nama dan bentuk , mencapai Yang maha Suci, lebih tinggi dari yang tertinggi”.

Sumber : paduarsana.com

Tujuan Hidup Manusia Menurut Hindu


Agama Hindu memberikan tempat yang utama terhadap ajaran tentang dasar dan tujuan hidup manusia. Dalam ajaran Agama Hindu ada suatu sloka yang berbunyi: “Moksartham Jagadhita ya ca iti dharmah“, yang berarti bahwa tujuan beragama adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman batin (kedamaian abadi). Ajaran tersebut dijabarkan dalam konsep Catur Purusa artha atau catur warga adalah empat dasar dan tujuan hidup manusia.

Dhrama 
Tujuan manusia menurut agama Hindu disebut Catur Purusartha (empat tujuan akhir). Tujuan hidup yang pertama adalah dharma. Sebagaimana telah dijelaskan didepan, dharma berarti agama atau kewajiban. Pertama-tama manusia haruslah menjadi manusia beragama. Beragama berarti hidup bermoral. Hidup bermoral merupakan landasan bagi tujuan tujuan hidup berikutnya.

Artha
Tujuan hidup kedua adalah Artha. Artha artinya materi atau secara sempit disebut uang, secara luas artha diartikan sebagai keberhasilan atau kesuksesan. Untuk hidupnya manusia memerlukan materi. Tanpa materi bagaimana kita menyelenggarakan kehidupan rumah tangga, pendidikan dan kewajiban- kewajiban agama?
Tapi materi atau kesuksesan itu harus dicapai berdasarkan landasan agama dan dipergunakan sesuai dengan moral agama.

Kama
Tujuan hidup yang ketiga adalah Kama. Kama dalam arti sempit dimaksudkan kesenangan karena aktivitas seksual. Aktivitas seksual pertama-tama berfungsi sebagai prokreasi (regenerasi dan penerusan keturunan). Kedua aktivitas seksual berfungsi rekreasi (re=kembali, kreasi=menciptakan), peneguhan (kembali) hubungan cinta kasih antara suami dan isteri. Sekali lagi, kama harus dilandasi oleh dharma. Hubungan seksual itu harus dilakukan dalam kerangka perkawinan yang sah. Dalam arti luas kama juga mencakup kesenangan-kesenangan yang lain, misalnya yang ditimbulkan oleh keindahan dan seni.

Keseimbangan Jiwa dan Raga
Sebagaimana dikatakan dalam bahasan sebelumnya (Atman : Jiwa yang Kekal), manusia terdiri dari dua aspek yang saling melingkupi, yaitu badan dan jiwa. Masing-masing aspek ini, memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu. Artha dan kama (lebih) merupakan tujuan dari raga dan badan kita. Sedangkan dharma dan moksha merupakan tujuan dari jiwa kita.
Jadi kebutuhan raga dan jiwa kita harus dipenuhi secara seimbang. Agama Hindu sama sekali tidak mengajarkan pemeluknya untuk mengabaikan dunia. Tapi agama Hindu juga tidak mengajarkan kita hanya memikirkan dunia. Tujuan kita yang tertinggi yaitu moksha dicapai melalui perjalanan kita dalam kehidupan didunia ini. Jadi dapat dikatakan ketiga tujuan di atas, yaitu dharma, artha dan kama, merupakan tangga bagi tujuan hidup yang terakhir yaitu moksha. Bagaimana kita memperoleh ketiga tujuan ini, bagaimana kita mempergunakan artha dan kama akan menentukan apakah kita akan mencapai tujuan tertinggi itu atau tidak.

Surga adalah Persinggahan Sementara.
Dalam agama Hindu surga merupakan persinggahan sementara. Menurut Swami Dayananda Saraswati, surga adalah pengalaman liburan. Seperti seorang pergi ke Hawai atau ke Bali untuk bersenang-senang sebentar membelanjakan uangnya dan kemudian kembali ke rumahnya.
Bagavad Gita mengatakan :
“Setelah menikmati surga yang luas, mereka kembali kedunia ini sesuai ajaran kitab suci. Demi kenikmatan mereka datang dan pergi”.
Surga adalah kesenangan sementara (pleasure). Sedangkan kebahagiaan yang sejati (Joy atau happiness) adalah Moksha.

Sumber : paduarsana.com

Senin, 04 Mei 2015

Hari Raya Pagerwesi

Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari ini dirayakan mengandung filosofis sebagai simbol keteguhan iman, Pagerwesi berasal dari kata Pager yang berarti pagar atau pelindung, dan Wesi yang berarti besi. Pagar Besi ini memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, sebab tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia akan mengalami kegelapan (Awidya), dalam lontar sundari gama ada disebutkan:
"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh."

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.

Artinya:

Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).
Bagi umat yang telah mendalami yoga semadhi, ini adalah hari yang sangat baik untuk melakukan Meditasi atau perenungan terhadap yang maha Kuasa (Siwa), yang paling penting dalam pelaksanaannya adalah melakukan meditasi pada tengah malam. Sebelum melaksanakannya dapat dilakukan mono brata (tidak bersuara/berbicara), melatih konsentrasi pikiran dengan membaca kitab suci terutama yang berisikan mantra-mantra yang mengandung kekuatan gaib, selain itu dilakukan puasa memutih sampai tengah malam. Sambil membaca dalam hati (mono brata) konsentrasikan pikiran hanya pada bacaan / mantra yang ingin diresapi dan setelah tengah malam renungilah apapun yang dipahami tadi kemudian meditasikan...
Hari raya ini diperingati dengan cara melakukan persembahyangan mulai dari Sanggah/Merajan (tempat bersembahyang dilingkungan rumah tangga) hingga ke Pura lainnya dilingkungan desa maupun Pura Kahyangan Jagat lainnya.

Minggu, 03 Mei 2015

Soma Ribek

Hari Soma Pon Sinta, disebut hari raya Soma Ribek. Menurut Sundari Gama (Sinar Agama) pada hari ini Sanghyang Tri Murti Mrtha beryoga, dengan pulu / lumbung (tempat beras dan tempat padi) selaku tempatnya.

Pada hari tersebut umat Hindu di Bali disarankan memusatkan perhatian kepada rasa syukur atas keberadaan pangan. Secara fisik dicerminkan dengan melaksanakan tindakan-tindakan khusus terhadap padi dan beras, misalnya: tak boleh menumbuk padi, menggiling beras dan sebagainya. Mengadakan widhi widana seperti lazimnya, dipersembahkan pada tempat- tempat penyimpanan beras dan padi, sebagai makanan pokok.

Boleh dikatakan, hari ini adalah Hari Pangan bagi umat Hindu. Pada saat- saat itu kita diminta ngastiti Sang Hyang Tri Pramana yaitu: Cri, Sadhana dan Saraswati. Terutama hendaklah kita mengisap sarining tattwa adnjana yaitu memetik sari-sari ajaran-ajaran kebenaran / ketuhanan.