Kamis, 03 Juli 2014

Upacara Mebayuh Oton

Menurut buku wariga agung, Mebayuh bisa diketegorikan dalam dua klasifikasi ;

1  Mebayuh yang bersifat reguler atau berkelanjutan yang dilaksanakan setiap perubahan status, misalnya dari staus anak - anak menjadi remaja, dari status remaja menjadi dewasa (menikah), dari status dewasa menjadi orang tua, dan dari status menjadi orang tua menjadi kakek atau nenek. 

2.      Mebayuh yang dilaksanakan karena kondisi tertentu, misalnya kelainan jiwa, terkena kesakitan, sering menemui ala atau kecelakanaan dan hala - hal yang bersifat marabahaya lainnya. 

Menurut sastra: Lontar Jyotisha mebayuh atau metubah atau mebebangan untuk “mengurangi keburukan dan menambah kebaikan” maka upacara itu dilakukan pada saat otonan ybs menurut perhitungan: wuku, sapta wara, dan panca wara.

Otonan berasal dari kata pawetuan dan lebih mendasar lagi berasal dari kata wetu, yang artinya keluar atau lebih tepatnya dalam kaitan ini : lahir. Jadi otonan adalah upacara memperingati hari kelahiran kita (manusia). Mengapa otonan perlu diperingati melalui pelaksanaan upacara. Ada beberapa hal yang penting dikemukakan :

1.    Menyatakan terima kasih kepada Sanghyang Widhi karena roh diperkenankan lahir kembali (re-inkarnasi) menjadi manusia. Kitab suci Sarasamuscaya VI.4 menyatakan : “Apan iking dadi wang, utama juga ya, nimitaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wang ika”. Terjemahannya : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

2.     Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan bahwa manusia mempunyai tiga “badan” : stula sarira, suksma sarira, dan duta karana sarira. Setiap manusia wajib memelihara ketiga badan ini dengan baik agar dapat mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah. Stula sarira dipelihara dengan menjaga kesehatan dan vitalitas. Suksma sarira dipelihara dengan melaksanakan upacara-upacara manusa-yadnya. Dan bila stula sarira dan suksma sarira dalam kondisi “sehat” maka dengan sendirinya duta karana sarira akan sehat pula. Salah satu upacara manusa-yadnya adalah otonan.

Upacara Megedong Gedongan

Upacara Megedong Gedongan adalah upacara yang dilakukan untuk penyucian bayi yang masih ada dalam kandungan ibunya. Upacara ini merupakan tradisi adat istiadat yang terus dilakukan secara turun temurun oleh umat Hindu di Bali.

Megedong Gedonganini dilakukan pada saat bayi dalam kandungan berumur 6 bulan (210 hari), karena wujud bayi sudah dianggap sempurna/lengkap pada usia itu. Disisi lain untuk memperkuat posisi bayi di dalam kandungan agar tidak terjadi abortus/keguguran, lalu secara jasmani upacara Megedong Gedongan ini dilakukan, agar sang bayi menjadi kuat pada saat dilahirkan dan kelak menjadi orang yang berbudi luhur, berbakti pada orang tua, berguna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa, sedangkan untuk ibunya sendiri sebagai doa permohonan keselamatan kepada Hyang Whidi ( Yuhan Yang Maha Esa) agar si ibu sehat, selamat pada saat waktu melakukan persalinan/melahirkan.

Kata Megedong Gedongan berasal dari kata gendongan yang bermakna kandungan. Dalam melaksanakan upacara Megedong Gedongan ini menggunakan filsafat agama Hindu dengan cara perhitungan angka samkhya yaitu dari angka 210 menjadi hitungan 2+1=3 yang artinya Tri Angga yaitu Suksma Sasira, Antakarana, Stula Sasira dihari itu ke tiga unsur telah menyatu menjadi bayi dan saatnya untuk penyucian dan berharap roh yang akan berenkarnasi betul betul roh yang suci.

Sementara untuk ibunya sendiri dengan diadakannya Upacara Megedong Gedongan ini, bertujuan mendapatkan dukungan kejiwaan seperti merasa aman, ketenangan juga merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari pihak keluarga, karena ibu yang hamil belum mempunyai pengalaman dalam hal melahirkan. Oleh sebab itu sehari sebelum Megedong Gedongan ini dilaksanakan dharma tula yaitu pemberian nasehat bahwa melahirkan itu adalah kobrat sebagai seorang ibu, juga disarankan untuk menbaca buku ilmu pengetahuan, buku ilmu agama dan mendekatkan diri dengan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), menghindari diri dari penglihatan dan pendengaran yang bersifat negatif/buruk, karena itu semua dapat mempengaruhi kehidupan bayi dikemudian hari.
Simbol dan keperluan yang disediakan saat upacara:
  1. Dibuat bentuk bangunan yang terbuat dari daun kelapa muda/janur yang berbentuk segi empat bujur sangkar dengan ukuran 30 cm memiliki pintu, dan diisi seperangkat alat sesajen, bermakna gedung diumpamakan sebagai kandungan ibu tepat bayi sebelum lahir.
  2. Nasi menyerupai bayi dibungkus dengan daun sente berisi bawang, jahe, garam dan lampu, simbol seorang bayi yang sedang terbungkus plasenta(ari-ari), memiliki kekuatan asuri sanpad (Sang Bhita Anggara) yang sedang menguasai kandungan, bawang, jahe, garam dan lidi sebagai simbol Tri Guna bermakna sebagai kekuatan rajas, tamas dan kekuatan satwam (Dharma), lampu symbol Sang Hyang Atma sebagai kekuatan surya candra/widia yang memberikan kekuatan kepada ibu dan bayinya  sehingga bisa menetralisir kekuatan Bhuta Anggara dan saat melahirkan bisa selamat, lidi symbol permohonan kepada agar diberikan keselamatan.
  3. Sebuah Sabit symbol Ardha Candra (bulan sabit) memiliki makna memohon penyucian mendapatkan kekuatan Hyang Siwa, yang memberikan kekuatan kepada air di sungai dengan sebutan Sang Hyang Catur Gangga.
Ada tingkatan dalam upacara Magedong Gedongan yaitu : nista, madia dan utama, semua ini tergantung dari kemampuan ekomoni yang melaksanakannya.
Tata cara upacara Megedong Gedongan diawali dengan upacara melukat di “kelebutan”  di tepi sungai tempat dimana sumber air alami yang dianggap suci. Setelah itu dilanjutkan dengan melukat di gria yang pimpin oleh Sulinggih (Ida Pendanda/orang yang dihormati mengerti agama). Pada sore harinya upacara Megedong Gedongan dilaksanakan di rumah dan dipimpin oleh seorang Pemangku.
Pada upacara terakhir pasangan suami istri akan duduk berdampingan untuk mendengarkan (kidung suci), petuah dan nasehat yang berisi tentang larangan dan juga saran untuk pasangan suami istri.
Upacara Megedong Gedongan termasuk dalam Manusa Yadnya. Agama Hindu di Bali tak bisa lepas dari upacara atau disebutYadnya. Yadnya terdiri dari 5 macam yang biasa dikenal Panca Yadnya yaitu :
  • Manusa Yadnya: Upacara suci yang dilakukan pada manusia.
  • Pitra Yadnya: Upacara suci yang dipersembahkan kepada roh leluhur.
  • Rsi Yadnya: Upacara suci yang dilakukan untuk para orang suci umat Hindu.
  • Bhuta Yadnya: Upacara suci yang dilakukan untuk menyucikan alam beserta isinya.
  • Dewa Yadnya: Upacara suci yang dipersembahkan untuk para dewa atau Sang Hyang Widhi.
Selain upacara Megedong Gedongan upacara yang termasuk Manusa Yadnya : Otonan, Tiga Bulanan, Metatah (potong gigi) dan Pawiwahan (pernikahan).

Upacara Potong Gigi

Upacara Potong Gigi mengandung arti pembersihan sifat buruk yang ada pada diri manusia. Potong gigi dalam bahasa Bali Mepandes bisa juga disebut Matatah atau Mesanggih, dimana 6 buah taring yang ada di deretan gigi atas dikikir atau ratakan, upacara ini merupakan satu kewajiban, adat istiadat dan kebudayaan yang masih terus dilakukan oleh umat Hindu di Bali secara turun temurun sampai saat ini.

Upacara ini dianggap sakral dan diperuntukan bagi anak anak yang mulai beranjak dewasa, dimana bagi anak perempuan yang telah datang bulan atau mensturasi, sedangkan bagi anak laki laki telah memasuki masa akil baliq atau suaranya telah berubah, dengan upacara ini juga anak anak dihantarkan ke suatu kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang di sebut juga niskala.
Adapun 6 sifat buruk dalam diri manusia atau disebut juga sad ripu yang harus dibersihkan tersebut adalah:
  1. Hawa nafsu
  2. Rakus/Tamak/keserakahan
  3. Angkara murka/kemarahan
  4. Mabuk membutakan pikiran
  5. Perasaan bingung
  6. Iri hati/ dengki
Dari semua sifat yang ada ini, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan  hal hal  yang tidak baik/diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap orang tua untuk dapat memberi nasehat, bimbingan serta permohonan doa kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha ) agar anak mereka terhindar dari 6 pengaruh sifat buruk yang sudah ada sejak manusia di lahirkan di dunia.  
Kegiatan saat upacara
  1. Pendeta atau orang yang terhormat dalam upacara ini minta restu di tempat suci, lalu anak anak atau remaja yang akan melaksanakan potong gigi dipercikan air suci/tirta, setelah itu mereka memohon keselamatan untuk melaksanakan upacara.
  2. Pendeta melakukan potong rambut dan menuliskan lambang lambang suci  dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia, untuk meninggalkan masa kanak kanak ke masa remaja.
  3. Anak anak yang akan di potong giginya naik ke bale tempat pelaksaaan Mepandes dengan terlebih dahulu menginjak sesajen yang telah disediakan sebagai symbol mohon kekuatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
  4. Setelah pemotongan gigi berlangsung, bekas air kumur kumur  dibuang di dalam buah kelapa gading, ini bertujuan agar tidak mengurangi nilai kebersihan dan kesakralan dalam menjalankan upacara ini.
  5. Lalu dilanjutkan dengan  melakukan penyucian diri oleh pendeta agar dapat menghilangkan bala/kesialan untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
  6. Melaksanakan Mapedamel yang bertujuan sebagai symbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih agar dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, dalam mengarungii kehidupan di masa datang. Di saat melakukan upacara ini anak anak mengenakan kain putih dan kuning, memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah, putih dan hitam) sebagai simbol pengikat diri terhadap norma norma agama, kemudian anak anak yang dipotong giginya mencicipi 6 rasa (pahit, asam, pedas, sepat, asin dan manis) yang mempunyai arti dan makna makna tertentu.
  7. Setelah proses mapedamel dilakukan, dilanjutkan dengan upacara Natab Banten, yang bertujuan memohon anugerah kepada Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan dapat tercapai.
  8. Setelah proses upacara tersebut dilakukan dilanjutkan dengan Metapak, tujuan adalah memberitahukan kepada anak nya bahwa kewajiban sebagai orang tua dari melahirkan, mengasuh dan membimbing sudah selesai, diharapkan  sang anak kelak setelah upacara ini menjadi orang yang berguna, sebaliknya si anak  kepada orang tua nya menghaturkan sembah sujud ungkapan terima kasih  sudah dengan susah payah berkorban jiwa dan raga untuk melahirkan mereka, mengasuh, membesarkan,  mendidik dan membimbing mereka menuju jalan yang baik dan benar sampai dewasa. (Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi)
Dari serangkaian upacara diatas dapat kita pahami bahwa dalam diri setiap manusia sejak mereka dilahirkan sudah terdapat sifat yang tidak baik, dengan melakukan upacara Mepandes ini anak yang sudah dewasa diingatkan dan diajarkan untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama dan bisa menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Sumber : http://www.wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/upacara-potong-gigi

Rabu, 02 Juli 2014

Upacara Pawiwahan Sadampati

Upacara Pawiwahan Sadampati mempunyai makna sebagai upacara kesaksian ke hadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) dan juga kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri atau menikah sebagai suami-istri.

Upacara ini termasuk dalam upacara Yadnya, sementara yadnya bermakna upacara pengorbanan suci yang tulus ikhlas.

Upacara Pawiwahan Sadampati dilaksanakan dengan sangat sederhana dan biaya yang sedikit,  namun makna yang dikandung di dalamnya sangat tinggi, karena banten/sesajen upacara yang digunakan dalam upacara ini mengandung simbol-simbol yang lengkap. Perkataan Sadampati terdiri dari rangkaian kata-kata: sa-dampa-ti masing-masing kata berarti sebagai berikut: sa = satu; dampa = tempat duduk/ bangku; ti = orang. Keseluruhan berarti: orang-orang yang duduk bersama dalam satu bangku untuk menikah. Acuan upacara ini adalah lontar: Dharma Kauripan.
Upacara ini dalam Agama Hindu adalah perbuatan dharma, sedangkan rangkaian upacara ini merupakan pengesahan karena sudah melibatkan tiga kesaksian, yaitu:
  1. Bhuta saksi (upacara mabeakala)
  2. Dewa saksi (upacara natab banten pawiwahan, mapiuning di Sanggah pamerajan)
  3. Manusa saksi (dengan hadirnya anggota adat, birokrat, dan sanak keluarga/ undangan lainnya)
Banten/Sesajen yang digunakan adalah sebagai berikut:
  •  Beakala, simbol pensucian “sukla swanita” (calon jabang bayi) dan sebagai Bhuta saksi, yaitu bagian dari Trisaksi yakni: Bhuta, Dewa, dan Manusa Saksi.
  • Tegteg daksina peras ajuman masing-masing di Sanggar Surya untuk mohon kesaksian Bhatara Surya/ Siwa, di Lebuh untuk mohon kesaksian Bhatara Wisnu, dan di arepan Pandita untuk mohon pemuput.
  • Hulu banten berupa tegteg daksina peras ajuman di depan bale pawiwahan.
  • Dua buah pajegan yaitu pajegan buah-buahan diletakkan di sebelah kanan sebagai simbol pradana, dan pajegan bunga-bungaan disebelah kiri sebagai simbol purusha.
  • Taledan segi empat sebagai alas banten, simbol catur weda.
  • Dua buah tumpeng, yaitu merah simbol kama bang (wanita) dan tumpeng putih simbol kama petak (laki-laki).
  • Satu butir telur bebek rebus simbol calon janin diletakkan di tengah-tengah tumpeng dan ditancapi bunga warna merah dan putih.
  • Kalungan bunga merah putih simbol kekuatan ikatan perkawinan.
  • Segehan aperancak sebanyak 5 tanding masing-masing diletakkan dibawah sanggar surya, beakala, bale pawedaan, bale pawiwahan, dan di lebuh, sebagai haturan kepada bhuta kala.
  • Tegteg daksina peras ajuman di kamar tidur pengantin untuk mohon perlindungan kepada Bethara Semara-Ratih agar pengantin dilindungi dari mara bahaya dalam melaksanakan pawiwahan.
Untuk menghemat waktu, biaya transportasi, dan biaya konsumsi, pengantin yang masing-masing berjauhan rumahnya, dapat melaksanakan rangkaian upacara pawiwahan selesai dalam sehari dengan urutan sebagai berikut (setelah acara meminang):
  1. laki-laki menjemput wanita di rumahnya
  2. di rumah wanita kedua pengantin mabeakala
  3. mepamit di sanggah pamerajan wanita
  4. acara selanjutnya di rumah dan sanggah pamerajan laki-laki
Pelaksanaan Upacara diadakan di rumah mempelai wanita dan dipimpin oleh seorang pendeta, upacara di mulai dengan memercikan tirta, mareresik, dan melakukan doa, pemujaan dan permohonan  ke sanggar surya dan lebuh, kemudian pengantin mabeakala, lalu pengantin di kalungi bunga ,setelah itu pengantin menghadapi bale pawiwahan untuk mohon keselamatan dengan menghaturkan banten pawiwahan sadampati. Setelah berdoa mohon restu dan keselamatan, telur bebek yang di dalam banten dikupas dan diberikan kepada pengantin untuk dimakan, berlanjut pengantin melakukan mejaya-jaya, terus muspa, mabija, mawangsuh pada. Setelah itu Pendeta memberikan dharma wacana/wejangan dan petuah tentang susila pengantin kepada kedua mempelai.terakhir  Pendeta melakukan memuja, bersembahyang banten/sesajen yang ada di kamar tidur pengantin.(Stiti online. Bhagawan Dwija)
(Artikel dari berbagai sumber)

Menjangan Seluang

Bangunan ini disebut Pelinggih Menjangan Seluang ( Salwang ) adalah pelinggih untuk menghormati jasa-jasa Mpu Kuturan di Bali.

Empu Kuturan ialah seorang Maha Rsi dari Jawa timur yang datang ke Bali pada waktu pemerintahan Raja Marakata yaitu adik dari Airlangga.

Empu Kuturan di kenal sebagai salah satu tokoh spiritual yang memperkokoh sendi-sendi kehidupan beragama di Bali.
Antara lain :
· Adanya Khayangan Tiga di Desa-Desa Pakraman
· Adanya Khayangan Jagat
· Adnyan Sad Kahyangan Di Bali
· Tata Cara Penyelenggaraan Desa Pakraman.
· Tata Cara Pelaksanaan Upacara dan Upakaranya.
· Mengenal Arsitektur tradisional Bali.
· Palinggih-Palinggih Meru,Tugu dan Gedong.
Dan Mpu Kuturan juga di kenal sebagai pemersatu beberapa paham atau sekte hindu yang ada di Bali.
Beliau Juga Mengajarkan berbagai jenis pedagingan secara spiritual. Dan menganjurkan membuat Sanggah atau Merajan di tiap-tiap pekarangan rumah dan lain-lainnya.

Sebenarnya, sebelum paham atau sekte Hindu yang ada di Bali itu dapat disatukan oleh Mpu Kuturan, sering kali terjadi pertentangan paham yang menimbulkan keributan.
Maka Raja Gunapriya Dharmapatni ( Udayana Warmadewa ) yang bertahta di Bali pada waktu itu pada tahun saka 910 sampai 933 yang merupakan Raja keturunan Majapahit memandang perlu mendatangkan ahli Rohaniawan dari Majapahit, dan beliau mengirim utusan ke Majapahit, dari Majapahit mendapat tanggapan baik, maka dikirimlah Maha Rsi ke Bali
yaitu :
· Empu Semeru,
· Empu Garia,
· Empu Kuturan,
· Empu Gnijaya,
· Empu Baradah.
Setelah Beliau bersama-sama di Bali Raja Gunapriya Dharmapatni mengangkat Empu Kuturan sebagai Ketua Majelis dalam tugas penanganan tentang sekte-sekte tersebut.
Kemudian Empu Kuturan mengadakan pertemuan dengan nama “ Samuan Tiga “ hasil keputusan Samuan tersebut mendapat kesepakatan bahwa keagamaan didasarkan kepada Siwa dan Bhuda dan semua sekte telah masuk kedalamnya.
Jadi kesimpulanya yang berstana ( Malinggih ) di Palinggih Menjangan Seluang adalah Sang Hyang Panca Rsi Terutama Empu Kuturan.

Sumber :  http://silsilahkeluargabm.wordpress.com/2012/08/05/menjangan-seluang/

Rahinan Batara Rambut Sedana

Rabu Wage Wuku Klawu atau dalam Bahasa Bali disebut Buda Wage Klawu atau yang lebih dikenal dengan istilah “Buda Cemeng Klawu”. Buda Cemeng Klawu merupakan hari pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sedana yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan. Hal ini sering disebut sebagai piodalan Ida Bhatara Rambut Sedana yang diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali oleh masyarakat Hindu di Bali.

Dalam tradisi agama Hindu di Bali, “Batara Rambut Sedana” dipuja sebagai “Dewi Kesejahteraan” yang menganugerahkan harta kekayaan, emas-perak (sarwa mule), permata dan uang (dana) kepada manusia. Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Mahaesa kepada umat Manusia.

 Dilihat dari arti katanya yaitu “Sri” artinya beras, dan “Sedana” artinya uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah, maka perayaannya dilakukan di lingkungan rumah tangga dan juga pura di lingkungan desa adat. Bahkan di Pura Besakih yang merupakan pura terbesar di Bali, juga terdapat Pura Rambut Sedana yang merupakan hulu dari Pelinggih Rambut Sedana atau sering disebut Sri Sedana yang ada di merajan keluarga di Bali. Setiap pasar di Bali juga mempunyai pelinggih atau pura Bhatari Melanting yang dihormati sebagai ‘Dewi Perekonomian’ dan setiap hari Buda Cemeng Klawu akan dilakukan peringatan untuk mengucapkan rasa syukur atas rejeki yang diperoleh yang ditujukan kepada Bhatara Rambut Sedana. Buda Cemeng Klawu ini merupakan hari perayaan yang cukup penting bagi umat Hindu khususnya di Bali. Sehingga Buda Cemeng Klawu ini lebih banyak dirayakan oleh mereka yang membuka usaha perdagangan di Bali, misalnya pedagang di pasar, toko sembako, pemilik warung, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaan tersebut.Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Betara Sedana sebagai rasa terima kasih atas pemberian-Nya.

Ada satu hal unik dari perayaan ini, yaitu dipercaya bahwa pada hari ini masyarakat Bali tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang atau menabung karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia. Entah benar atau tidak, hal ini adalah mitos yang sangat menarik untuk diyakini karena mengandung unsur yang sangat kental dengan budaya tradisional masyarakat Bali.

Sumber : http://menara-fm.com/hari-raya-uang-rahinan-batara-rambut-sedana.html